Aside

Bicara denganmu kembali membuat saya merasa bersyukur. Betul juga katamu, anak-anak yang kuhadapi disini adalah anak-anak yang masih murni bahwa dipikiran mereka hanyalah bermain. Mereka belum terpapar hal lain yang sebaiknya tidak mereka dapatkan saat seusia mereka.

Anak-Anak

Aside

Saya ga akan bohong tanpa alasan syar’i, sekecil apapun itu. Saya akan memilih diam daripada harus berbohong.

Harus berusaha… untuk ga berbohong sama Allah, diri sendiri, sesama, dan kepada ciptaanNya yang lain. Bismillah…🙂

2015

Aside

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya takut tertidur kemudian lewat (meninggal).

Jadi ceritanya, saya diare dan mulas. Karena tidak sabar (lagi jaga malam juga), saya minta suntik obat iv. Belum sampai 5 menit, pandangan mata satiba-tiba kabur, kerongkongan kering, jantung berdebar, dan badan terasa lemas tiba-tiba.

Saya menghampiri perawat, meminta tolong untuk diperiksa tanda vital. Tekanan darah 90/70!

Agak panik, saya langsung instruksikan kalau ada apa-apa, tolong pasang jalur iv, epinefrin SC, dan panggil rekan sejawat saya di rumah.

Sambil ngetes konsentrasi, saya WA teman sejawat di puskesmas. Alhasil langsung di telpon, ditanya ini-itu, dan diinstrusikan hal yang sama seperti saya katakan pada perawat sebelumnya. Sukses bikin banyak teman panik juga karena sedang ada banyak orang dirumahnya. Katanya, kemungkinan saya anafilaktik ringan. Huft….

Alhamdulillah dalam 1 jam mulai perbaikan. Masih ada sisa sedikit sih kurang enak badannya, lalu saya paksakan tidur sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Huhu…

Reaksi Anafilaktik Ringan?

Aside

Kukatakan pada diriku sendiri bahwa menikah bukanlah hal mengerikan.

Kukatakan juga bahwa bukankah secara tidak sadar aku menginginkan hal itu. Jadi kenapa tak mencoba untuk membuka diri?

Bukankah secara sadar pula, aku mempersiapkan ke arah tersebut? Misalnya soal pembelajaran ilmu komunikasi, mendengarkan, berkompromi, mengalah, belajar memahami karakter anak dan orang dewasa, baca buku-buku agama, ilmu sosial, ilmu parenting, sampai urusan gizi/masakan untuk keluarga. Meski seringkali berkata itu semua untuk self survival, sebenarnya ada unsur ingin menjadi orang yang siap sebagai calon istri dan ibu bukan?

Kukatakan lagi dan lagi, kenapa juga harus takut memulai? Bukankah cinta bisa datang dengan sendirinya? Allah kan sudah menjamin itu.

Dalam beberapa hal di kehidupan, aku berani ambil keputusan yang kebanyakan orang tak mau ambil risiko. Berjauhan dengan keluarga misalnya.

Nah, kenapa tak menganggap pernikahan adalah sebuah risiko dengan tantangan seumur hidup? Bukankah Allah telah menjamin banyak kebaikan didalamnya ketika kita meniatkan dan menjalaninya karena ibadah? Jadi kenapa tak berani?

Kukatakan untuk kesekian kalinya, “Aku harus berani!”

Pada Diriku Sendiri

Teman Kesayangan

Saya punya banyak orang -selain keluarga- yang sangat saya sayangi. Kali ini saya mau cerita tentang salah satunya. Hehe… Sudah lama juga ga menulis.


 

Belum genap 1 tahun kami saling mengenal.

Awalnya hanya (sepertinya) -biar ga cuma berdua aja mainnya karena ga rame-, lalu sharing tentang IELTS-GRE, dan setelahnya rutin bermain.

Kalau dari awal dibilang sering cerita pun tidak. Kami tidak sedekat itu.

Tapi mungkin ya ada juga pertemanan diawali proses semacam ini. Hanya saja saya belum pernah mengalaminya.

Karena sering berinteraksi, kadang celetukan yang menggambarkan karakter pun mulai muncul ke permukaan. Tentang cara berpikirnya, kebaikannya, kepeduliannya, ekspresi perhatian kepada keluarganya, sampai perjalanan hidupnya. Sepotong-sepotong memang. Beberapa cara pandangnya tentang hidup berbeda jauh dengan saya, tapi itu tidak membuat saya jadi tidak hormat padanya. Saya menghormati teman saya ini. Bukan karena pendidikannya atau pekerjaannya. Saya menghormatinya karena saya nyaman dengannya. Kadang galak juga sih, tapi ya ga seru juga kan kalau berteman cuma kelihatan sisi baiknya aja. :v

Teman saya ini seorang yang senang menulis juga diblog dan -ga keberatan dibaca orang lain-. Jadi saya iseng membaca cerita-ceritanya dari semasa kami belum saling mengenal. Tentang perjuangan dan kerja kerasnya, ataupun pemikirannya sampai akhirnya saya sedikit paham yang membentuk dirinya ketika saya mengenalnya sekarang.

Dan penilaian saya tetap sama. Saya tetap menghormati teman saya ini.


 

You are so great dear.

Saya pribadi sangat bangga dan salut sebagai temannya. Dia orang yang sangat baik. Saya benar-benar berharap banyak kebaikan, kemudahan, dan keberkahan yang akan dia jumpai kedepannya. Dalam hal apapun nantinya.

Semoga Allah senantiasa menjagamu.

Karena bidang kita berbeda, apa yang kita hadapi pun berbeda, mari terus berjuang berikan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Tentunya dengan cara kita masing-masing.🙂

Apa Kabar?

Apa kabar?

 

Apa hari ini harimu menyenangkan?

Apa kamu menyapa kawanmu, rekan kerjamu, atau pasienmu dengan kesungguhan hati?

Apa hari ini kamu bisa merasakan bahwa Allah dekat denganmu?

 

Apa kamu bahagia dengan hidupmu sekarang?

Apa kamu senang dengan pilihanmu sekarang?

Apa kamu bisa bebas mengekspresikan pikiranmu seperti apa yang kamu harapkan sebelumnya?

Apa kamu mulai terpengaruh dengan peer pressure?

Apa kamu mulai iri dengan kehidupan orang lain?

 

Apakah kamu mulai kehilangan teman baikmu satu-persatu?

Apakah kamu sudah bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting dalam hidupmu?

Apakah kamu masih berspekulasi dengan hidupmu sendiri?

Apakah kamu mulai kehilangan kepercayaan pada dirimu sendiri?

Apakah kamu menerima dirimu apa adanya?

Apakah kamu mulai bisa mengendalikan egomu terhadap orang lain?

 

dan masih banyak lagi pertanyaan yang sering muncul.

 

Tentunya hidup kita kan beda episodenya. Apa yang aku rasakan, belum tentu pernah kamu rasakan. Begitupun sebaliknya.

Mungkin sebenarnya kita tak kan pernah saling mengerti satu sama lain. Kita hanya saling belajar untuk memahami.

Terima kasih untuk obrolan-obrolan penguat hati.

Aku sayang kalian semua.🙂

Fase Hidup dan Pengingat Berulang

Beberapa kali, saya menemukan hal menarik dalam sebuah pertemanan, persahabatan, atau apapun itu namanya.

Ketika kita berbagi kegembiraan, kebingungan, atau sekedar masalah sepele, mereka ada untuk kita. Memberi nasihat sesuai sudut pandang berdasarkan yang mereka baca, perhatikan, atau dialami sendiri. Lucunya, akan ada waktu dimana mereka bercerita padamu dan kamu memberi nasihat sama persis dengan apa yang mereka katakan padamu sebelumnya.

Empat bulan ini cara berpikir saya berubah banyak. Buat sebagian orang mungkin biasa saja, namun bagi saya ini sangat banyak. Lingkungan berubah, pola pertemanan berubah, cara pandang hidup berubah, prioritas yang tak pernah terpikirkan pun muncul. Saat kebingungan sendiri, seorang teman mengatakan kalau semua orang mengalami itu. Hatipun menjadi lebih tenang. Ya, saya tidak sendirian.

Hal terbaik yang saya miliki adalah tetap dekat (merasa dekat?) dengan sahabat-sahabat terbaik saya. Meski kadang hanya cerita tak penting, namun itu sangat berarti sebenarnya. Kalaupun tak bertemu fisik, masih ada whatsapp/bbm. Tak berbincang pun kami saling berbagi cerita lewat tulisan. Seolah tulisan itu berbicara “Hai, saya baik-baik saja. Kamu bagaimana?” Oleh karenanya, saya tetap menulis (meski isinya ga penting semua. hihi).

Banyak sih yang ingin disampaikan. Intinya terima kasih banyak. Bahkan saya malu karena mungkin tidak maksimal berusaha menjadi teman yang baik. Ada banyak rasa terima kasih, yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Setidaknya mereka yang banyak berpengaruh dalam hidup saya tahun ini.

Saya benar-benar bangga memiliki teman-teman baik seperti kalian. Kalian semua bagian terpenting dalam hidup saya. Keberadaan kalian bermakna banyak dalam hidup saya. Keep sharing dalam kebaikan, kawan. Karena kita tidak pernah tahu kapan keberadaan kita merubah teman kita menjadi lebih baik. Terima kasih.🙂

Rotasi Penyakit Dalam

Haha…

Ini labil.

Tapi satu bulan ada di bagian penyakit dalam benar-benar membuat saya jatuh cinta pada ilmu ini.

Saat rotasi di radiologi, saya menyenangi kesibukan sebagai koas yang kebetulan materinya amit-amit banyak banget!

Tapi di bagian IPD berbeda. Saya menyukai ilmunya sekaligus kesibukannya.

Dan yang paling saya senangi, saya semakin bersemangat untuk melanjutkan sekolah. Ada motivasi lebih untuk bercita-cita mengambil sekolah spesialis dan juga PhD. Ada begitu banyak perempuan hebat yang berdedikasi di bidang pendidikan dan penelitian, dengan jenjang pendidikan yang semakin mengerucut. Melihat mereka, ada keyakinan bahwa saya juga tak boleh takut untuk mencari kesempatan itu.

Saya tahu ini ga tahu diri. Sering banget malas-malasan, tapi berani bermimpi besar. Tapi saya harap, saya bisa masuk ke dunia yang cukup sibuk ini. Mau diapain lagi, saya kebiasaan terpacu kalau dalam situasi yang sibuk. Dan lagi entah kenapa saya sangat menikmatinya. hehe

Masih ada waktu 1 tahun lagi sampai koass selesai. Semoga setidaknya, saya bisa mengubah kebiasaan buruk saya. amin…

By almahira Posted in Life

Plus

Hari ini saya beruntung.
Ah, sebenarnya ini kabar buruk. Tapi saya bersyukur tidak ada di ruangan itu selama beberapa menit. Tadi subuh, saya diberitahu kalau pasien yang sempat saya follow-up sudah plus. Plus adalah kode di rumah sakit untuk pasien yang meninggal.

Pasien ini datang dengan penurunan kesadaran. Keluarganya bercerita, saat tidur tiba-tiba pasien mengorok dan sulit untuk dibangunkan. Karena itu, ia di bawa ke rumah sakit. Dengan suara lirih, keluarga mengatakan adanya riwajat penyakit jantung koroner. Meski belum tahu penyebabnya, saya menyimpulkan kalau pasien tersebut terkena serangan mendadak (stroke). Tidak lebih dari 4 jam, ia sudah plus.

Saya yakin ekspresi saya tadi pagi biasa saja. Tapi mendengar isak tangis dari keluarga, saya teringat sepupu ipar saya yang menjadi janda karena sepupu saya meninggal karena serangan jantung. Alur kejadiannya sama persis. Dan saya tak berani membayangkan bagaimana perasaan sepupu ipar yang bahkan lebih muda dari saya harus hidup dengan anaknya yang saat itu belum genap berusia 1 tahun.

Empat kali saya melihat kematian berlangsung di depan mata. Meski tahu itu adalah proses normal sebuah perjalanan hidup manusia, tetap saja bukan pengalaman yang menyenangkan. Saya beruntung pagi ini tidak menyaksikan hal itu.

By almahira Posted in Life

Bagian IPD

Kecuali jaga malam yang bikin kaki sepertimau copot, saya suka sekali bagian IPD.

IPD itu menantang. Ada pressurenya, cocok dengan karakter saya yang lebih semangat kalau ada pressure. hehe

IPD itu ilmunya asik. Ada biomolekulernya, ilmu tentang hubungan dokter-pasien yang kuat, dan ilmu klinis yang  sangat mendasar.

Semoga bisa melewatinya dengan baik dan bisa belajar banyak di IPD. amin

Semoga 4 tahun lagi jadi residen di IPD. amin…

By almahira Posted in Kampus