Archives

Harapan

Awalnya malas menuliskan ini di blog. Tapi ya sudalah, siapa tahu menjadi penyemangat lagi. Toh, akhir-akhir ini saya kembali merasa hidup saya berantakan. Ada untaian yang hilang, tetapi saya tidak tahu bagian apa yang hilang.

Ini beberapa hal yang harus saya lakukan di di tahun 2012 untuk memenuhi harapan sendiri:

1.  Ikut kelas tafsir di Salman dan belajar lagi untuk menghapal Al-Quran

Ini untuk meredam gelisah hati. I always blaming myself almost everyday. Bingung dengan banyak hal, menyalahkan hidup, bahkan sempat mengutuki. Saya tahu itu salah. Maka sebagai manusia normal, hal yang harus dilakukan adalah mencari tahu dengan benar. Caranya dengan belajar dengan tepat.

2.  Fokus di koass

Tentunya karena kedepannya profesi saya ya jadi dokter. #alasannya ga keren

Dalam pikiran saya, koass itu sangat menyenangkan. Kami bisa belajar banyak disini. Mulai dari ilmu klinis, praktis, hingga komunikasi. Setelah mendapat gelar dokter dan bekerja, saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. Selama 6 bulan koass, saya sangat berminat di bidang radiologi. Padahal awalnya malas-malasan. Nah, karena masih banyak bagian yang harus dilewati, makanya harus sungguh-sungguh, supaya tidak terlalu banyak yang terlewati. Tapi tetap saja sih, sebenarnya saya lebih banyak malasnya daripada belajar. Duh, harus dirubah nih!

3.  Belajar menulis

Kenapa? Karena saya yakin ini akan bermanfaat di masa depan nanti. Tapi sebenarnya, saya tidak terlalu tertarik berkarir di dunia kepenulisan. Dulu sih sempat tertarik, tapi sekarang passion itu hilang total. Semoga dengan bergabung bersama teman-teman di salman media dan tim buku ajar, passion itu muncul kembali. Minimal, saya menemukan alasan mendasar kenapa harus menulis (selain untuk alasan kemanusiaan, finansial, ataupun hobi).

4.  Persiapan diri untuk ikut program beasiswa

Tahun ini saya mau mencoba lagi untuk ikut pertukaran pelajar dari kampus ke Nijmegen. Kali ini bukan penasaran atau iseng seperti tahun lalu. Ada sesuatu yang ingin saya pelajari disana. Ada hal yang ingin saya lakukan yang sifatnya berkesinambungan. Mungkin karena paparan dunia klinis saat koass semakin bertambah, sehingga pikiran semakin terbuka.

Saya juga berencana ikut seleksi tim Indonesia Mengajar untuk keberangkatan Juli 2013. Pendaftaran online mulai Desember 2012. Awalnya bimbang ingin ikut atau tidak. Tapi setidaknya sekarang, saya harus belajar untuk memantapkan diri. Ini hal yang saya sukai: berkomunitas, kerelawanan, dan berbagi. Ada hal yang ingin saya pelajari bersama orang-orang baru yang sebaya. Pun dengan passion berbagi kepada anak-anak. Saya tahu sebenarnya saya bisa mendapatkannya di tempat lain. Tapi, saya ingin melakukan hal yang benar-benar saya inginkan: mengabdi sebagai guru SD. Nantinya kalau PTT, saya tak mungkin melakukan itu lagi. Tak mungkin pula punya tempat pembelajaran bersama teman-teman yang seumuran. Tapi keputusan ikut IM masih bisa berubah.

5.  Belajar tentang life cycle cell

Sebenarnya sih tidak terlalu tertarik dengan dunia penelitian. Tapi jauh di lubuk hati, saya sangat mencintai tentang siklus hidup sel. Meskipun seringkali tidak paham, tapi tetap saja ingin tahu. Mengetahui tentang kehidupan sebuah sel acapkali membuat hati saya hangat dan semakin membuat saya takjub dan bersyukur akan ciptaan Allah. Karenanya, tahun ini saya memutuskan mengikuti konferensi ilmiah tentang biomedical sciences. Saya ingin memastikan, sejauh mana saya benar-benar ingin mendalami hal ini. Harapannya, setelah tahu apa saja bidang yang mempelajari siklus sel, saya makin tahu apa yang harus saya lakukan: maju atau mundur.

 

Lima poin dulu deh. Nanti kalau terpikirkan yang lain, akan posting lagi. Bismillah… Semoga kedepannya dimudahkan. Amin.

Evaluasi Ramadhan 2011

Hari ini hari terakhir bulan Ramadhan.

Tiba-tiba saya ingat banyak hal yang terlalu banyak terlewati.

Menyesal?

Jujur iya, meski sedikit, karena itu pilihan saya.

Evaluasi Ramadhan tahun ini lebih sederhana dibanding tahun sebelumnya.

Tidak ada yang namanya target tilawah diperbanyak, tahajud, atau ibadah sunnah.

Semua hal yang berkaitan dengan ibadah wajib (menurut saya) sangat berantakan. Well, maksudnya, biasa-biasa saja, tak ada perubahan berarti.

Selama 4 tahun kuliah, saya belajar mengenal diri sendiri. Proses yang panjang, bahkan masih belum menemukan sejatinya seperti apa. Setidaknya, untuk karakter, sedikit demi sedikit sudah mulai bisa dipahami.

Ramadhan kali ini saya jadikan momentum untuk hidup lebih teratur.

Saya sadar betul, ibadah saya masih kacau, dan saya lebih memilih untuk menteraturkan hidup saya lebih dahulu (yang artinya lebih ke urusan duniawi) dibanding meningkatkan kualitas ibadah.

Ya Allah, maafkan saya. Karena ternyata saya tidak sanggup kalau harus menjalani keduanya sekaligus. Manajemen waktu saya memang tak sebaik yang lain. Saya hanya berusaha mencari titik keseimbangan yang bisa dijalani. Hanya itu saja. Kalau kuantitas ibadah ditingkatkan, beberapa kali saya gagal dalam urusan akademik dan sosial. Harusnya tidak seperti itu. Ada sesuatu yang salah pastinya. Pun dengan sebaliknya.

Momentum Ramadhan kali ini tentang keteraturan hidup saya persiapkan untuk bulan-bulan berikutnya. Seperti keteraturan jadwal tidur, bangun pagi, sampai aktivitas sebelum berangkat ataupun kapan waktu untuk belajar. Termasuk waktu mengaji (meskipun hanya sedikit) dan mendengarkan ceramah di radio.

Itu saja Ramadhan saya tahun ini. Tak terlalu istimewa, tetapi bagi saya sangat istimewa.

Refleksi Pendidikan

Saya sedang merasa sangat bahagia hari ini.

Saya juga merasa malu karena masih kurang sabar dan berusaha dalam memahami sesuatu.

Saya beruntung mengenal orang-orang hebat yang tanggug berjuang dalam hidupnya. Baik bertemu langsung maupun hanya melalui tulisannya. Salah satunya seorang guru besar di bidang ekonomi, yaitu pak Rhenald Kasali.

Karena seorang sahabat yang menceritakan cara beliau memotivasi anak didiknya untuk berani berpikir inferior, saya pun mulai penasaran dan secara tidak sengaja menemukan artikel-artikel yang ia tulis. Topiknya beragam, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, politik, hingga kepemimpinan dengan pendekatan analogi yang menyentil namun mudah dimengerti.

Salah satu tulisan yang menarik perhatian saya adalah artikel mengenai Deep Understanding. Sebuah refleksi kecil yang sedikit menyinggung sistem pendidikan, pola didik guru, dan kondisi masyarakat ‘berpendidikan’ kita. Ada konsep waktu yang hilang dalam proses pendidikan kita, sehingga pemahaman secara superficial lebih mendominasi . Semua ini berawal dari rasa ingin tahunya “Mengapa anak-anak kita (Indonesia) kesulitan mengungkapkan isi pikirannya. Kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin cepat-cepat selesai.”

Dalam artikenya, ia bertutur bahwa di Jepang, terdapat tujuh pilar dalam proses pembelajaran. Pilar tersebut yaitu (1) Berpengetahuan dengan ” deep understanding,” (2) Mampu berpikir kompleks dan menjadi pemecah masalah, (3) Kreatif namun reflektif, (4) Menjadi kontributor yang bertanggung jawab, (5) Termotivasi dan terkendali, (6) Independen namun interdependen, dan (7) Mampu menjadi komunikator yang efektif. Ketujuh pilar tersebut memiliki kesamaan konsep dengan negara-negara maju, bahwa melahirkan orang kreatif saja tidak cukup, namun juga harus menjadi kontributor yang bertanggung jawab dan reflektif.

Saya dan Program Profesi

Tulisan pak Rhenald mengingatkan banyak hal tentang apa yang telah saya persiapkan untuk menempuh program profesi. Ada proses yang hilang selama pembelajaran di tahap sarjana. Saya kehilangan waktu untuk memberikan yang terbaik yang bisa diusahakan. Belajar asal-asalan; ujian sistem SKS (Sistem Kebut Seminggu) dengan hanya membaca kumpulan soal; pemahaman pun sangat superfisial. Akibatnya, saya masih sangat kebingungan menghadapi kasus-kasus yang muncul. Cara meng-anamnesa, fungsi normal, perjalanan penyakit, bahkan definisi sederhana pun rasanya sulit dipelajari.

Program profesi, yang saya rasakan, sangat berbeda dengan program sarjana. Harus diakui, ada tanggung jawab yang lebih besar. Bagi saya, program profesi dapat sangat menentukan masa depan macam apa yang ingin direncanakan. Oleh karena itu, idealnya pembelajaran dalam setiap rotasi harus dengan usaha terbaik. Kalau sungguh-sungguh, semakin banyak informasi yang didapat, minat bisa tergali lebih dalam, dan menemukan passion terkuat dibidang mana nantinya ingin terspesialisasi dengan tepat tanpa menyesal.

Kalau nantinya kita sudah tahu ingin fokus di bidang mana, pasti Allah akan mempermudah semua jalannya, asalkan ilmu yang ingin diaplikasikan itu berkah. Kalau dalam islam, keberkahan ilmu dilalui dengan 3 tahap, yaitu niat, totalitas, dan sebaik-baik aplikasi. Jika di breakdown lebih dalam, tujuh pilar pendidikan tadi terangkum dalam 3 tahap tersebut.

Selamat menjalani program profesi.

Bagi teman-teman yang belum lulus, ayo kita berikan totalitas terbaik yang kita miliki tuk menyelesaikan tanggung jawab berproses kita dalam pendidikan.

Jika merasa gagal, mari berusaha lagi pelan-pelan, ga masalah dari nol juga, yang penting berusaha dengan baik.

Terakhir, hati-hati terjebak dengan nilai yang bisa mengaburkan proses waktu dalam pembelajaran.

Bismillahirrahmanirrahim…

Kelompok Pertama Saya sebagai Dokter Muda

Saya yang sedang merasa dalam kondisi sangat buruk…

Semoga niat diluruskan kembali.

Semoga tak pernah pantang menyerah.

Semoga terus bersemangat untuk belajar dengan tekun.

Pada Suatu Senja

20 Agustus 2011

Saya senang sekali hari ini. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Waktu yang kami miliki hanya sebentar, tapi perasaan hangat itu masih tetap terasa.

Hari ini saya bertemu teman-teman terbaik semasa hidup saya, yaitu teman SMA.

Kegiatan pagi diawali dengan mengikuti kuliah umum bersama pak Jusuf Kalla.

Disana saya bersama sahabat saya. Senang banget dapat pemikiran baru. XD

Pak JK sangat-sangat berpikiran dagang. Cara menyemangati kami, anak muda, punya khasnya tersendiri. Tulisannya tentang acara pak JK menyusul ya…

 

Oia, disana saya tidak sendiri, tapi bertiga. Ada dee-m dan kang Yudha (akang, punten saya ga punya foto akang).

Aku juga sempat berfoto di depan panggungnya. Hihi… Agak norak karena yang foto-foto hanya panitia. Kami? Cuek saja.

 

Sorenya, saya buka puasa bersama dengan teman-teman SMA yang sedang berada di Kota Bandung. Sebelumnya mentoring dulu…

Karena kami tidak pesan tempat terlebih dahulu, jadilah luntang-lantung dan baru bisa dapat tempat untuk makan sekitar jam 7 malam.

Tak lupa, foto bersama setelah makan selesai. Tradisi yang (sepertinya) wajib.

 

sayang banget si cule ga ikutan

Sebelum pulang ke kostan masing-masing, kami bermain dulu di game center kemudian photobox. Kacau banget kalau dipikir-pikir, terutama photobox nya, banyak yang buram karena susah kebagian ruang ketika proses pemotretan. Dan, tak kurang dari 100 jepretan foto di kamera digital saya. -_____-”

di bawah laut pun tetep (sok) gaya

 

ibu bidan dan aku

 

properti yang akhirnya tak terpakai

 

Sekian cerita saya hari ini. Semoga kita semua sukses terus dan dilancarkan rezekinya sama Allah.

Terima kasih teman-teman biogenic, untuk harinya yang sangat menyenangkan!