Archives

Bagian IPD

Kecuali jaga malam yang bikin kaki sepertimau copot, saya suka sekali bagian IPD.

IPD itu menantang. Ada pressurenya, cocok dengan karakter saya yang lebih semangat kalau ada pressure. hehe

IPD itu ilmunya asik. Ada biomolekulernya, ilmu tentang hubungan dokter-pasien yang kuat, dan ilmu klinis yang  sangat mendasar.

Semoga bisa melewatinya dengan baik dan bisa belajar banyak di IPD. amin

Semoga 4 tahun lagi jadi residen di IPD. amin…

Kabar

Sebuah kabar memang tak selamanya harus menyenangkan.

Namun ketika mendengar hal tak menyenangkan tentang apa yang telah dibangun sebelumnya sejak awal, ini lain cerita.

Haha…

Apa yang salah? Bahkan kami telah memberikan hati pada apa di masa lampau.

Mengapa kalian tak melibatkan kami ketika menghadapi masalah?

Kenapa harus ada perasaan sungkan?

+

Semalam kebagian shift jaga di ruang operasi. Well, lebih tepatnya jadi pengamat karena tentunya semua tindakan dilakukan oleh residen. Dan yang namanya kasus di RSHS itu memang rumit-rumit. Misalnya saja kasus invaginasi, hernia diafragmatika, peritonitis difusa, burst abdomen, perforasi, selulitis, fraktur, subdural/epidural hemorrhage, dll. Saking banyaknya, ga ingat.

Nah, ga hanya kasusnya saja yang rumit. Kondisi pasiennya juga bisa rumit banget. Banyak penyakit penyerta selain penyakit yang dijadikan keluhan utama. Misalnya sakit jantung, TB, anemia. Belum lagi cairan tubuh atau bahkan albumin yang perlu dikoreksi.

Semalam, untuk pertama kalinya  saya melihat kematian secara langsung di depan mata. Tekanan darah pasien tiba-tiba turun drastis. Detak jantung juga menurun. Tindakan cepat diambil. Resusitasi Jantung Paru. Monitoring. Adrenalin. Atropin sulfat. Entah berapa ampul digunakan untuk merangsang agar pasien bangun. Kalau kata perawatnya, koass cuma ikutan riweuh aja. Akhirnya saya dan teman hanya bantu loading obat-obatan saja.

Sedikitnya saya sudah pernah belajar tentang kematian. Bahwa mati itu ada prosesnya, terutama jika parameter yang digunakan adalah GCS (Glasgow Coma Scale). Pasti ada penurunan GCS, baik cepat atau lambat. Tak mungkin dari GCS 15 langsung ke 3, kecuali mungkin yang meninggal di tempat.

Dan semalam, saya mulai paham itu semua. Masih ingat dokter residen bertanya kepada pasien dan dia masih bisa menjawab. Atau gerakan pasien yang mulanya kuat, perlahan mulai melemah. Prosesnya benar-benar nyata. Anehnya meskipun saya tahu itu semua dan berpikir tenang karena ini proses yang normal, tetap saja tangan saya bergetar. Detak jantung tiba-tiba menjadi lebih cepat. Ampul-ampul yang dipatahkan tidak bisa saya pegang dengan kuat. Obat-obatan yang dimasukkan ke dalam spuit beberapa kali menetes karena tangan bergetar.

Sungguh, kematian sangat dekat.

Saat itu saya memang tidak merasakan apa-apa. Emosi ditekan, kalau tidak bisa-bisa menangis di depan banyak orang. Kemudian diam, hening, berpikir sejenak. Berapa banyak keluarga yang ditinggalkan dan merasa sedih karena kepergiannya. Akan ada orang yang kehilangan  sumber pencari nafkah. Ada anak yang kehilangan sosok orangtua. Pasangan yang kehilangan teman seperjalanannya.

Mengingat itu semua, saya ingin menangis.

Medicinus

Saya cinta banget sama Medicinus.

Meski mungkin passion menulis saya sudah menurun drastis, saya masih tetap ingin ada di Medicinus.

Medicinus itu sudah seperti keluarga buat saya.

Tidak sekadar untuk sedih bersama, berjuang, atau sekedar makan-makan.

Saya sayang sama teman-teman Medicinus seperti sayangnya saya pada keluarga.


Saya mungkin ga pernah bisa berbuat yang baik. Malahan lebih sering mengedepankan ego daripada berdiskusi dengan kepala dingin.

Tapi, jauh dari dalam lubuk hati, saya benar-benar berdoa supaya teman-teman saya ini bisa memperoleh banyak kebaikan dan kemudahan dalam hidupnya.

 

Terima kasih untuk perjuangan bersamanya, Gumi, Umam.

Tugas Artikel

Akhirnya tugas artikel untuk buku kenangan selesai sudah.

Saya harus banyak minta maaf sama teman-teman karena ngaretnya terlalu lama.

Harusnya, kerjaan saya itu selesai sejak bulan Juni. #payah

 

Sebenarnya, saya ga terlalu bisa menulis karena terbiasa menjadi editor.

Sudah mencoba juga meminta beberapa orang untuk menulis, tetapi tidak ter-follow up dengan baik. Akhirnya tulisan pun tak ada.

 

Dan sebulan ini ditagih terus-menerus. Setiap hari, saya terpikir mau ambil topik seperti apa. Saya ga terlalu sering ikut event angkatan, jadi ketika menulis tentang kegiatan angkatan, banyak masalah muncul. Ya feel ga dapat lah, harus me-recall dengan keras apa saja yang dialami, atau sekedar mengambil sudut pandang yang netral. Stuck lama sekali.

 

Tapi Alhamdulillah, selesai juga.

Saya benar-benar lega.

Refleksi Pendidikan

Saya sedang merasa sangat bahagia hari ini.

Saya juga merasa malu karena masih kurang sabar dan berusaha dalam memahami sesuatu.

Saya beruntung mengenal orang-orang hebat yang tanggug berjuang dalam hidupnya. Baik bertemu langsung maupun hanya melalui tulisannya. Salah satunya seorang guru besar di bidang ekonomi, yaitu pak Rhenald Kasali.

Karena seorang sahabat yang menceritakan cara beliau memotivasi anak didiknya untuk berani berpikir inferior, saya pun mulai penasaran dan secara tidak sengaja menemukan artikel-artikel yang ia tulis. Topiknya beragam, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, politik, hingga kepemimpinan dengan pendekatan analogi yang menyentil namun mudah dimengerti.

Salah satu tulisan yang menarik perhatian saya adalah artikel mengenai Deep Understanding. Sebuah refleksi kecil yang sedikit menyinggung sistem pendidikan, pola didik guru, dan kondisi masyarakat ‘berpendidikan’ kita. Ada konsep waktu yang hilang dalam proses pendidikan kita, sehingga pemahaman secara superficial lebih mendominasi . Semua ini berawal dari rasa ingin tahunya “Mengapa anak-anak kita (Indonesia) kesulitan mengungkapkan isi pikirannya. Kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin cepat-cepat selesai.”

Dalam artikenya, ia bertutur bahwa di Jepang, terdapat tujuh pilar dalam proses pembelajaran. Pilar tersebut yaitu (1) Berpengetahuan dengan ” deep understanding,” (2) Mampu berpikir kompleks dan menjadi pemecah masalah, (3) Kreatif namun reflektif, (4) Menjadi kontributor yang bertanggung jawab, (5) Termotivasi dan terkendali, (6) Independen namun interdependen, dan (7) Mampu menjadi komunikator yang efektif. Ketujuh pilar tersebut memiliki kesamaan konsep dengan negara-negara maju, bahwa melahirkan orang kreatif saja tidak cukup, namun juga harus menjadi kontributor yang bertanggung jawab dan reflektif.

Saya dan Program Profesi

Tulisan pak Rhenald mengingatkan banyak hal tentang apa yang telah saya persiapkan untuk menempuh program profesi. Ada proses yang hilang selama pembelajaran di tahap sarjana. Saya kehilangan waktu untuk memberikan yang terbaik yang bisa diusahakan. Belajar asal-asalan; ujian sistem SKS (Sistem Kebut Seminggu) dengan hanya membaca kumpulan soal; pemahaman pun sangat superfisial. Akibatnya, saya masih sangat kebingungan menghadapi kasus-kasus yang muncul. Cara meng-anamnesa, fungsi normal, perjalanan penyakit, bahkan definisi sederhana pun rasanya sulit dipelajari.

Program profesi, yang saya rasakan, sangat berbeda dengan program sarjana. Harus diakui, ada tanggung jawab yang lebih besar. Bagi saya, program profesi dapat sangat menentukan masa depan macam apa yang ingin direncanakan. Oleh karena itu, idealnya pembelajaran dalam setiap rotasi harus dengan usaha terbaik. Kalau sungguh-sungguh, semakin banyak informasi yang didapat, minat bisa tergali lebih dalam, dan menemukan passion terkuat dibidang mana nantinya ingin terspesialisasi dengan tepat tanpa menyesal.

Kalau nantinya kita sudah tahu ingin fokus di bidang mana, pasti Allah akan mempermudah semua jalannya, asalkan ilmu yang ingin diaplikasikan itu berkah. Kalau dalam islam, keberkahan ilmu dilalui dengan 3 tahap, yaitu niat, totalitas, dan sebaik-baik aplikasi. Jika di breakdown lebih dalam, tujuh pilar pendidikan tadi terangkum dalam 3 tahap tersebut.

Selamat menjalani program profesi.

Bagi teman-teman yang belum lulus, ayo kita berikan totalitas terbaik yang kita miliki tuk menyelesaikan tanggung jawab berproses kita dalam pendidikan.

Jika merasa gagal, mari berusaha lagi pelan-pelan, ga masalah dari nol juga, yang penting berusaha dengan baik.

Terakhir, hati-hati terjebak dengan nilai yang bisa mengaburkan proses waktu dalam pembelajaran.

Bismillahirrahmanirrahim…

Kelompok Pertama Saya sebagai Dokter Muda

Saya yang sedang merasa dalam kondisi sangat buruk…

Semoga niat diluruskan kembali.

Semoga tak pernah pantang menyerah.

Semoga terus bersemangat untuk belajar dengan tekun.

Dokter Muda

Satu minggu ini belajar sebagai dokter muda buat saya artinya…
1. Merelakan sebagian besar waktu untuk bermain.
2. Kehilangan sebagian besar waktu untuk SMS-an kurang penting, apalagi telpon.
3. Sulit mengatur waktu untuk pulang ke rumah. Kalaupun pulang, waktunya untuk main bersama anggota keluarga.
4. Belajar untuk bisa tidur nyenyak dan tidak tahu malu, dimana saja, dengan bermacam posisi. Di angkot, ruang koas, mushalla, bahkan di ruang kuliah. Tentunya bisa sambil menelungkupkan wajah diatas meja, posisi duduk biasa, sampai bersender di dinding. Pokoknya ada kesempatan untuk tidur meskipun hanya 10 menit, ya dipakai untuk tidur.
5. Ruang gerak semakin menyempit. Senin hingga Jumat saya ada di rumah sakit, dari pukul 7 pagi hingga 4 sore, rutin dengan 7 orang yang itu-itu lagi. Susah pergi jauh-jauh karena dipadatkan kegiatannya untuk mengejar target (mau lebaran, pasien lebih sedikit).

Itu saya lho! Kalau orang lain, mungkin tak se-drastis saya perubahannya. Masih lebih banyak hal menyenangkan yang lain tentunya, di tulisan terpisah ya…

Selamat berbuka semuanya.

Sebelum Koass

Judulnya agak provokatif, I guess…

Mungkin normalnya, sebelum koass, sebelum masuk stase rotasi dimulai, akan banyak persiapan. Maklum, baru pertama masuk dunia profesi. Ya stetoskoplah, ya spigmomanometer lah, ya penlight, ya termometer, dll…

Ada satu hal yang berbeda di keseharian saya selama dirumah sebelum koas: bikin perjanjian sama ortu!

Well, sebenarnya ga aneh sih, karena kami memang sering bikin perjanjian-perjanjian tak tertulis yang –entah kenapa –  hampir selalu ditepati. Jadi doa kali yee!

Maka, sebelum koass dimulai, ayah saya minta satu hal: tamatin koass tepat waktu.

Waduh!

Jujur bingung!

Kalau begini sih, saya harus kubur dalam-dalam niat saya untuk mencoba ikut kegiatan yang mengharuskan cuti kuliah. Katanya saya harus fokus. Dan dimanapun minat saya, pada akhirnya prioritas utama tetap bidang kesehatan. Takutnya malah ga fokus dan malah jatuh semuanya.

Setelah lobi sana-sini, ternyata ya ga berhasil. Akhirnya saya malah minta kesepakatan dukungan untuk ga melarang saya aktif di berbagai kegiatan diluar kampus, selama tidak menganggu aktivitas pendidikan. Termasuk dukungan finansial dan ga kecewa kalau misalnya saya ga bisa lulus cumlaude. #ngelunjak

Perjalanan baru saja mau dimulai. Ga boleh gentar, ga boleh berpikiran buruk, ada Allah yang selalu melindungi. Asal berusaha berikan terbaik, Allah juga pasti mengizinkan banyak hal baik dan berkah setiap harinya.