Saya sedang merasa sangat bahagia hari ini.
Saya juga merasa malu karena masih kurang sabar dan berusaha dalam memahami sesuatu.
Saya beruntung mengenal orang-orang hebat yang tanggug berjuang dalam hidupnya. Baik bertemu langsung maupun hanya melalui tulisannya. Salah satunya seorang guru besar di bidang ekonomi, yaitu pak Rhenald Kasali.
Karena seorang sahabat yang menceritakan cara beliau memotivasi anak didiknya untuk berani berpikir inferior, saya pun mulai penasaran dan secara tidak sengaja menemukan artikel-artikel yang ia tulis. Topiknya beragam, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, politik, hingga kepemimpinan dengan pendekatan analogi yang menyentil namun mudah dimengerti.
Salah satu tulisan yang menarik perhatian saya adalah artikel mengenai Deep Understanding. Sebuah refleksi kecil yang sedikit menyinggung sistem pendidikan, pola didik guru, dan kondisi masyarakat ‘berpendidikan’ kita. Ada konsep waktu yang hilang dalam proses pendidikan kita, sehingga pemahaman secara superficial lebih mendominasi . Semua ini berawal dari rasa ingin tahunya “Mengapa anak-anak kita (Indonesia) kesulitan mengungkapkan isi pikirannya. Kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin cepat-cepat selesai.”
Dalam artikenya, ia bertutur bahwa di Jepang, terdapat tujuh pilar dalam proses pembelajaran. Pilar tersebut yaitu (1) Berpengetahuan dengan ” deep understanding,” (2) Mampu berpikir kompleks dan menjadi pemecah masalah, (3) Kreatif namun reflektif, (4) Menjadi kontributor yang bertanggung jawab, (5) Termotivasi dan terkendali, (6) Independen namun interdependen, dan (7) Mampu menjadi komunikator yang efektif. Ketujuh pilar tersebut memiliki kesamaan konsep dengan negara-negara maju, bahwa melahirkan orang kreatif saja tidak cukup, namun juga harus menjadi kontributor yang bertanggung jawab dan reflektif.
Saya dan Program Profesi
Tulisan pak Rhenald mengingatkan banyak hal tentang apa yang telah saya persiapkan untuk menempuh program profesi. Ada proses yang hilang selama pembelajaran di tahap sarjana. Saya kehilangan waktu untuk memberikan yang terbaik yang bisa diusahakan. Belajar asal-asalan; ujian sistem SKS (Sistem Kebut Seminggu) dengan hanya membaca kumpulan soal; pemahaman pun sangat superfisial. Akibatnya, saya masih sangat kebingungan menghadapi kasus-kasus yang muncul. Cara meng-anamnesa, fungsi normal, perjalanan penyakit, bahkan definisi sederhana pun rasanya sulit dipelajari.
Program profesi, yang saya rasakan, sangat berbeda dengan program sarjana. Harus diakui, ada tanggung jawab yang lebih besar. Bagi saya, program profesi dapat sangat menentukan masa depan macam apa yang ingin direncanakan. Oleh karena itu, idealnya pembelajaran dalam setiap rotasi harus dengan usaha terbaik. Kalau sungguh-sungguh, semakin banyak informasi yang didapat, minat bisa tergali lebih dalam, dan menemukan passion terkuat dibidang mana nantinya ingin terspesialisasi dengan tepat tanpa menyesal.
Kalau nantinya kita sudah tahu ingin fokus di bidang mana, pasti Allah akan mempermudah semua jalannya, asalkan ilmu yang ingin diaplikasikan itu berkah. Kalau dalam islam, keberkahan ilmu dilalui dengan 3 tahap, yaitu niat, totalitas, dan sebaik-baik aplikasi. Jika di breakdown lebih dalam, tujuh pilar pendidikan tadi terangkum dalam 3 tahap tersebut.
Selamat menjalani program profesi.
Bagi teman-teman yang belum lulus, ayo kita berikan totalitas terbaik yang kita miliki tuk menyelesaikan tanggung jawab berproses kita dalam pendidikan.
Jika merasa gagal, mari berusaha lagi pelan-pelan, ga masalah dari nol juga, yang penting berusaha dengan baik.
Terakhir, hati-hati terjebak dengan nilai yang bisa mengaburkan proses waktu dalam pembelajaran.
Bismillahirrahmanirrahim…

Kelompok Pertama Saya sebagai Dokter Muda
Saya yang sedang merasa dalam kondisi sangat buruk…
Semoga niat diluruskan kembali.
Semoga tak pernah pantang menyerah.
Semoga terus bersemangat untuk belajar dengan tekun.