Empati
Ketika aku mencari bahan kuliah mengenai pengobatan tradisional, tidak sengaja aku meng-klik materi tentang etika yang akan kami pelajari di dermatomuskuloskeletal system. Didalam slide tersebut terdapat contoh-contoh kasus skeletal yang umumnya terjadi. Nah, seorang dokter diharuskan memberikan inform consent kepada pasien mengenai kondisinya. Misalnya saja kondisi ekstrimitasnya yang diperlukan tindakan amputasi, tetapi pasien menolaknya, atau kondisi yang mengharuskan pasien untuk dirawat secara intensif namun pihak keluarga menolak.
Sadar ga sadar, secara tidak langsung aku memposisikan diriku bila menjadi pasien tersebut. Kurasakan bagaimana perasaannya, kekalutannya saat itu, perasaan bimbang karena takut, merasa tidak sempurna secara fisik atau bahkan membayangkan sedalam apa mereka harus merogoh kocek untuk biaya perawatan. Belum lagi masa penyembuhan yang relatif lama. Pastinya banyak pertimbangan dalam benak mereka yang tidak mungkin mendukung untuk mengambil keputusan dengan cepat. Disinilah peran seorang dokter: menenangkan kondisi pasien, membantu mereka mengambil keputusan cepat, dan bila mereka tidak mampu sebisa mungkin menunjukkan bagaimana solusi pemecahannya (JAMKESMAS).
Kalau dipikir-pikir lagi, empati tidak cukup hanya dengan merasakan bagaimana perasaan orang lain, tetapi diperlukan juga seni dalam berkomunikasinya.
Ayo semangat untuk jadi dokter yang berempati tinggi!!!