Jangan Takut Gelap
Mungkin seorang alma tersengat sesuatu sampai-sampai menulis tulisan tidak penting ini. Saking ga pentingnya, nampak tak ada esensi bermakna di dalamnya. Ha ha ha
Lagu favorit alma minggu ini: Jangan Takut Gelap, by Tasya feat Duta (ha ha ha)
Akhir-akhir ini banyak percakapan mengenai cinta dan anak cowo (Argh!). Apapun itu namanya: pacaran, ngeceng, ada anak cakep, dll.
Pada akhirnya aku harus mengakui bahwa (sekarang) itu adalah jenis OBROLAN yang PALING AKU BENCI. Kadang terasa jadi orang munafik sih, BENCI tapi sering ngobrolin hal itu dengan semangat (padahal dalam hati pengen cepat2 diakhiri).
Aku sendiri suka heran, kenapa aku benci itu ya? Apa karena aku berpikir banyak hal-hal yang lebih banyak mudharatnya daripada kebaikannya? Hm, entahlah…
Aku jadi menebak-nebak sendiri. Sebenarnya kenapa aku benci itu? :O
Alasan pertama (mungkin), aku lebih menghargai orang yang benar-benar serius dan berkomitmen untuk pernikahan. Karena biasanya obrolannya lebih bermanfaat dan mengajarkan hal-hal yang lebih positif untuk masa depan.
Alasan kedua, agama mengajarkan untuk menahan pandangan terhadap lawan jenis. Bahkan kalau belum mampu untuk menikah dianjurkan untuk berpuasa. Ini berarti hubungan antar laki-laki dan perempuan begitu sangat serius, sehingga perlu dijaga sebaik mungkin untuk mencegah hal-hal kurang baik.
Alasan ketiga, aku diberitahu bahwa Allah lebih menyukai ibadah dan usaha produktif seorang pemuda/pemudi daripada orang yang sudah tua. Hikmahnya, begitu banyak hal yang bisa dilakukan seorang pemuda. Bayangkan, ketika semangat sedang tinggi-tingginya dan kekuatan fisik dalam keadaan puncak, lalu semua potensi itu digunakan untuk mengabdi kepada Allah daripada tebuang percuma akibat lamunan sia-sia. Bayangkan pula kondisi seorang tua yang semua energi dan pikirannya sudah nyaris habis dimakan usia, meski dia berusaha dengan sangat maksimal namun semuanya terbatas dengan usia yang ia miliki.
Wajar kan kalau Allah lebih sayang kepada pemuda yang mau menggunakan masa mudanya untuk berjuang dijalan-Nya?
Alasan keempat, memangnya tidak ada obrolan lain yang lebih menarik?
Kemudian aku, memutuskan untuk berkomitmen dengan seseorang karena aku ga suka dengan obrolan tentang cinta dan sangat ingin menghindarinya. Ha ha ha
Yah, hanya sebuah komitmen bahwa selama kuliah tidak akan berpacaran dengan orang lain. Well, aku pikir ga ada masalah karena selain aku tahu persis karakter orang ini, toh dia akan menyelesaikan kuliahnya dua tahun lagi. Masalah kedepannya bagaimana tergantung nanti saja. Lagipula, kami sama-sama orang yang berkomitmen cukup tinggi terhadap prinsip yang kami miliki. Klau orangnya baik, kenapa tidak?
Apakah itu tindakan bodoh? Entahlah.. Aku mulai tidak peduli akan banyak hal akhir-akhir ini. Aku hanya ingin menjaga hati dan pikiranku dengan baik sampai waktunya tiba, meski cara yang kuambil bagi sebagian orang kurang baik.
Sebelum tulisan ini selesai dan berakhir dengan aneh, aku ingin menulis hal yang membuatku kesal dan ga suka beberapa minggu ini.
Aku menyesal karena curiga bahwa ada seseorang yang tertarik sama aku. Dan aku semakin menyesal bahwa kecurigaanku itu benar. Itu semua membuatku tidak nyaman. Memang sih, menyukai seseorang itu adalah hak. Tapi aku benar-benar berharap tidak tahu sekarang. Perlahan tapi pasti, aku pasti sedikit membuat jarak.
Kuyakinkan diriku sendiri bahwa rasa suka yang ia miliki itu hanyalah perasaan nyaman, bukan suka yang benar-benar suka.
Kadang aku heran, ada orang yang kalau tahu ada yang suka malah semakin dekat dan semakin tak sungkan meminta pertolongan. Bukankah itu namanya memanfaatkan? Bukankah itu tindakan yang jahat ya? Ini yang aku perhatikan pada beberapa orang ketika aku SMA, termasuk salah satu orang yang kusayang. Kalau semasa kuliah sih, aku no komen.
Yah, intinya aku masih belum siap untuk jadi orang dewasa. Soalnya, masalah seperti ini saja aku belum tahu harus mengambil tindakan apa.
P.S
Pemikiran ini belum tentu bertahan lama. Karena aku hanya merasa belum saatnya saja. n_n