Updates from November, 2008 Hide threads | Keyboard Shortcuts

  • Belajar Mencintai 

    almahira 11:36 am on November 27, 2008 Permalink | Reply

    Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
    Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
    Itulah kesempatan.


    Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik,
    Itu bukan pilihan, itu kesempatan.
    Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan,
    Itupun adalah kesempatan.


    Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
    Bahkan dengan segala kekurangannya,
    Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.


    Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun
    apapun yang terjadi,
    Itu adalah pilihan.


    Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang
    lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu
    Dan tetap memilih untuk mencintainya,
    Itulah pilihan.


    Perasaan cinta, simpatik, tertarik,
    Datang bagai kesempatan pada kita.
    Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
    Pilihan yang kita lakukan.


    Berbicara tentang pasangan jiwa,
    Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat :
    “Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung
    pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil”

    Pasangan jiwa bisa benar-benar ada.
    Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang
    Yang diciptakan hanya untukmu.
    Tetapi tetap berpulang padamu

    Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin
    Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak…


    Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita,
    Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita,
    Adalah pilihan yang harus kita lakukan.


    Kita ada di dunia bukan untuk mencari
    seseorang yang sempurna untuk dicintai
    TETAPI untuk
    belajar mencintai orang yang tidak sempurna
    dengan cara yang sempurna.


    I wish and Pray…
    for you…
    many bless and many love
    in u life.

    Amin..

    (ini bukan tulisan alma, tapi alma cukup suka dengan kata-katanya yang sederhana)

     
    • ciwir 11:05 am on November 29, 2008 Permalink

      hidup adalah belajar…
      termasuk mencitai pun harus belajar…
      belajar untuk kehidupan dan untuk mencintai…

      –halah kok mbolak-balik hehehhe…. :D

  • almahira 11:34 am on November 27, 2008 Permalink | Reply

    barudak leutik

    Dunia Anak

    Biarkan mereka bermain
    Mempelajari segala sesuatu dengan seksama
    Berkelana dengan pikirannya masing-masing
    Bebas berekspresi dalam berbagai situasi

    Biarkan mereka tumbuh
    Mengembangkan imaji tertinggi
    Melewati batas maya tiada akhir

    Biarkan mereka merajut cita
    Menemukan hal-hal baru
    Tanpa interfensi pihak luar

    Untuk para orang dewasa, harap bersabar dalam menghadapi dunia anak. Arahkan mereka dengan baik karena pada kenyataannya kita tidak dapat memungkiri bahwa kita memiliki kontribusi dalam menentukan karakter generasi dimasa depan.

    Seseorang dikatakan matang dan dewasa ketika berusia 21 tahun, meskipun penilaian ini relatif. Menjadi anak-anak merupakan sebuah proses sebelum menjadi dewasa. Waktu yang tersedia pun tidak terlalu banyak. bayangkan!! Bila usia akhir kita adalah 60 tahun (akhir usia produktif), itu artinya kita akan menjadi orang dewasa selama 40 tahun. Dua puluh tahun usia kita sebelumnya pun tidak seluruhnya dikategorikan sebagai masa kanak-kanak.

    Bila orangtua care terhadap perkembangan anak-anaknya, setidaknya sampai sebelum akil balig, mereka akan tetap diarahkan dengan baik dan tidak diperlakukan remeh karena dianggap anak kecil. Setelah akil balig, anak akan diperlakukan setengah orang dewasa. Sebuah siklus yang tak kan pernah berakhir..

    Karena menjadi anak itu sangatlah singkat, mari kita dukung dengan sepenuh hati perkembangan di dunia anak. Mendukung tidak harus selalu melalui materi. Ada begitu banyak kontribusi yang bisa kita lakukan. Tak perlu hal yang besar, cukup yang kecil saja. Tersenyum, pujian pada anak karena berhasil melakukan sesuatu yang kecil, menegur dengan cara yang halus, berdiskusi tentang sifat teman-teman yang baik atau buruk, membacakannya dongeng sebelum tidur, bersikap santun, dan lain sebagainya.

    Ada satu hal yang kadang terlupakan oleh orang dewasa: berterima kasih dan meminta maaf. Minimal dalam terhadap anggota keluarga. Mari kita ingat kembali:
    Seberapa sering kita mengucapkan terima kasih saat adik memberi kita sepotong kue dan tidak mencela karena diberi bagian terlalu sedikit?
    Apakah kita meminta maaf saat tidak sengaja menginjak kaki adik? Atau malah menyalahkannya karena ia tidak duduk pada posisi yang tepat?

    Ayo, biarkan mereka tumbuh dengan baik.
    Tidak dalam dunia yang penuh kata makian dan apatisme orang dewasa terhadap hidup
    Dengan cara kita masing-masing
    Mari kita warnai kertas putih itu dengan segenap hati yang tulus

     
    • kinkinboy 3:54 pm on November 30, 2008 Permalink

      sepakat

      anak mempunyai 4 hak
      hak hidup, tumbuh kembang, partisipasi dan perlindungan…

  • Bikin Buku Yuk! (buat dee-m dan nanaw) 

    almahira 6:03 am on November 20, 2008 Permalink | Reply

    Hula! JL…

    Kita bikin buku yuk! Deadlinenya Januari 2010..

    Mamaw pikir, kita bertiga sama-sama suka nulis. Karakter kita bertiga tuh beda banget, cara berpikir kita juga unik, gaya tulisan pun sama sekali ga mirip. Hm,, mamaw jadi inget c a Marlon heran kenapa kita bisa ngahiji. Nah, karena banyak pisan bedanya, kayaknya seru deh kalau misalnya kita bisa bikin buku bareng-bareng.

    Masih inget kan sama impian kita buat nyelamatin bumi? Atau hal-hal sederhana yang sering kali menarik perhatian kita? Ga lupa juga sama ide-ide sotoy kita yang ga akan pernah mati! *narsis*


    Kita tulis semua yang kita rasain. Entah itu dalam bentuk essai, feature, cerpen, permisalan, berita, laporan, atau apapun bentuknya, pokoknya sebebas yang kita pengen.

    Kita tulis hal-hal yang sederhana. Mungkin suatu hari nanti itu bisa menginspirasi orang banyak. Hal yang sederhana yang sering terlupakan.

    Mamaw sih pengennya kita punya tema: ”Mulai dari yang kecil.. Kenapa engga?”. topiknya juga bebas, mau tentang lingkungan, tentang menyelamatkan bumi, tentang apapun yang kita alami.

    Kalau kita perhatikan, banyak buku-buku dari kisah sehari-hari yang diambil dari blog, catatan harian, jurnal, dll. Nah, kenapa kita ga masuk andil disitu juga? Sayang banget kalau kemampuan nulis kita stuck di satu tempat (blog) padahal banyak hal yang bisa kita lakukan lewat tulisan kita. Ketika banyak tema sejenis bertebaran tentang cinta, humor, seks, dan horor, kita tawarkan warna hal yang lain. Kita akan buat genre yang beda. Sepakat?

    Nah, supaya ga dikejar-kejar waktu yang mepet dan malah jadinya terkesan dibuat-buat, mamaw pengennya kita punya deadline Januari 2010. Ga usah terlalu dipikirin apa yang pengen kita tulis. Nulis mah nulis aja. Ntar kita kumpulin tulisan-tulisan kita, dipilih, dan diedit mana yang mau dimasukin ke buku kita. Seru kan..????

    Ini cuma ide mamaw aja, ntar tambah-tambahin lagi ya..

    Terakhir, mamaw cuma mu bilang (agak sedikit lebay nih): Proyek ini pasti menyenangkan. Mamaw seneng kalau kita punya proyek lagi. Kalaupun nantinya kita ga dapetin penerbit yang mau nerbitin kumpulan tulisan kita bertiga, kita ga boleh kecewa. Kepuasan itu terletak pada proses dan usaha yang kita jalani bersama, bukan kesuksesan di akhir nantinya. Hehe

    Anak kecil menginvasi dunia…

    Semangat!!!

    PS: Nanaw, c dee-m udah setuju, tapi mamaw belum dengar pernyataan darimu. Nanti kalau di tasik kita ketemu, kita obrolin lagi bertiga yah!

     
    • Prita 6:15 am on November 20, 2008 Permalink

      ditunggu… ^^

    • ciwir 3:39 pm on November 25, 2008 Permalink

      hooh ditunggu hasilnya mbak…

    • caca 6:26 am on November 27, 2008 Permalink

      ini kan yang kamu bilang waktu itu ke aku…???

      whaaaa, ayouayou dari sekarangg!!!
      tulis dari hal2 yg kecil,,

      jangan mpe bosen di tengah jalan ya maa!! ^^

  • Pertanyaan Adik 

    almahira 2:22 am on November 12, 2008 Permalink | Reply

    Apa yang akan kamu katakan pada adikmu yang berusia 8 tahun ketika ia bertanya:
    “Teteh, kalau bayi teh keluarnya dari mana? Dari itu yah?” (dengan nada ragu-ragu dan wajah penuh tanda tanya)

    Dan..
    Itu terjadi sama alma..
    Waaaaaaaaaa!!!!

    Oh God! Adikku yang manis,, bahkan sejak usia 6 tahun ia pernah melihat simulasi ibu melahirkan di stand kebidanan (yang pake manekin itu loh!). Tapi waktu itu kami masih bisa mengelabuinya bahwa ibu melahirkan kami melalui perut, tentunya ia masih terus bertanya.

    Bulan september lalu, aku membawa buku Williams ke rumah. Saat itu aku membiarkan adikku ini untuk membaca dan mengamati gambar didalamnya. Kembali, ia menanyakan hal yang sama. Namun kali ini, ia memiliki alasan dari buku yang ia lihat.

    Bulan November ini, ia kembali bertanya padaku.

    Ga mungkin kan aku blak-blakan bilang: ”Iya, dari situ.”

    Lalu meluncurlah kata-kata: ”Coba tebak,,, dari mana..?” (bertanya dengan sok misterius)

    ”Iya, dari itu kan? Kalau mamah dulu ngelahirin dari situ juga ga teh?”

    Tolooong!!! Apakah anak usia 8 tahun perlu tahu detail? Bukan aku ga mau jujur, tapi adikku ini mirip denganku: selalu bertanya dan bertanya. Kalau aku menjawab pertanyaan itu dengan sejujur-jujurnya (ya iyalah jangan semuanya dikasih tau), akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin belum saatnya bagi ia mengetahui hal ini. Dulu aja dia pernah bilang takut melahirkan setelah pulang dari stand kebidanan itu. Kata teh Nurul, seorang anak itu lebih cepat belajar secara konkrit, bukan abstrak. Jadi sepertinya, kenangan itu akan melekat cukup lama dipikiran adikku.

    Yang menjadi pertanyaan adalah: sampai sejauh mana aku harus memberi pengetahuan tersebut?

    Dan nampaknya, ia akan terus bertanya kepadaku tentang berbagai macam hal. Mungkin karena ia tidak puas dengan jawaban yang diberikan ibuku, yang memang sengaja menggantung, dan buntutnya akulah yang menjadi korban.

    hiks..

     
    • Farrel 7:40 am on November 13, 2008 Permalink

      Pasti adiknya pintar kayak kakaknya….!
      http://ekomadjid.wordpress.com

    • almahira 9:46 am on November 13, 2008 Permalink

      @farrel

      semoga lebih cerdas dan kritis dibandingkan kakaknya ini. hehe

      thanks buat kunjungannya..

    • ciwir 9:41 am on November 14, 2008 Permalink

      menerutku sich, biarin ntar gurunya disekolh aja yang ngejelasin… hehehe… btw cerdas bener nich adiknya…

    • almahira 12:21 pm on November 14, 2008 Permalink

      @ciwir

      jadi inget, dulu alma taunya karena baca. kayaknya kalau guru yang ngejelasain alma masih agak khawatir. mungkin beberapa tahun kedepan alma yang akan berinisiatif untuk ngejelasin itu. hehe

      cerdas?? siapa dulu dong, adik mamaw… *narsis*

    • Yella Ojrak 1:24 pm on November 14, 2008 Permalink

      Menurut saya, perlu sekali Alma jelaskan ke adik Alma bahwa melahirkan itu jalannya dari lubang yang ‘itu’. Ceritakan secara detil tentang proses melahirkan dengan bahasa anak-anak. Bahwa bayi itu tadinya hidup di dalam perut ibunya, dan setelah 9 bulan dikeluarkan lewat ’situ’. Ceritakan juga bahwa melahirkan itu adalah perjuangan, sakit, dan sebagainya yang Alma pernah tau.

      Pengetahuan pada anak tentang bagaimana dia bisa ada di dunia ini, memperkuat kepribadian dan imannya, juga meningkatkan rasa hormat dan baktinya pada orang tua khususnya ibu.

      Tapi cukup jelaskan soal proses melahirkannya saja, karena dia baru berumur 8 tahun. Soal cara ‘bikin adik’, tunggu kalau dia sudah akil baliq.

      Itu saja saran saya, semoga bermanfaat.

    • dittanyaa 2:08 am on November 15, 2008 Permalink

      yang kemaren alma ceritain yah? hehe

    • almascatie 12:56 pm on November 16, 2008 Permalink

      dijawab aja, dengan penjelasan yang bisa dimengerti oleh dia :) setidaknya dari pada dia bertanya kepada orang lain.. mendingan kepda kita sndiri

    • achoey 1:02 pm on November 17, 2008 Permalink

      dan kau adalah kakak yang cerdas :)

    • grubik 4:28 pm on November 18, 2008 Permalink

      si teteh mah…

  • Nikah yang Terlalu Dini 

    almahira 7:05 am on November 11, 2008 Permalink | Reply

    Ya,,, udah jadi santapan umum nih kisah tentang Ulfa dan bapak Prijono (aku bingung kenapa ia bisa disebut syekh, apa karena bajunya? haha)

    Aku benci pria itu. Menggunakan agama sebagai kedok untuk melakukan tindakan tercela – kalau aku bilang pedofilia atau lolita compleks apakah itu terlalu kasar?

    Siti Aisyah memang menikah pada usia muda, 9 tahun. Tapi baru serumah dengan Rasulullah diusia 13 tahun dan perlu diingat! yang menginginkan pernikahan tersebut adalah Abu Bakar, bukan Rasulullah. Sehingga tak satu manusiapun bisa seenaknya menggunakan hal ini dengan alasan sunnah rasul.

    Kalaupun memang menggunakan agama sebagai dalih, kenapa syaratnya harus yang cantik? Kenapa pandai saja tidak cukup?

    Bila melihat pada hukum agama, pernikahan itu sah. Namun sekarang, negara memiliki undang-undang bagi perlindungan anak. Ayolah, islam itu dinamis. Jangan kau campur adukkan ketidaksesuaian di zaman dahulu dengan zaman sekarang.

    Aku tidak tertarik membahas dari sisi pernikahannya.

    Aku pulang ke rumah selama 6 hari, juga melihat pernyataan cinta dan kesetiaan Ulfa di konferensi pers di televisi. Oh God! Matanya kosong menerawang, walau ia berusaha fokus dan tersenyum. Semua orang dewasa yang peka juga tahu, anak kecil memang tidak pandai dalam berbohong. Dan Sabtu ini, akhirnya Ulfa berhasil dibujuk oleh Kak Seto (aku pengen kayak kak seto!!) untuk kembali ke orangtuanya. Aneh kan? Dua hal yang terlalu bertentangan.

    Aku agak sedikit mengerikan bagiku, Ulfa akan kembali ke rumahnya. Meski katanya untuk menikmati haknya sebagai anak, namun kurasa ia bukan Ulfa sebelumnya. Akan ada sedikit rasa trauma, walau ia sangat berusaha untuk tidak peduli. Belum lagi masyarakat yang jahil dan selalu penasaran dan usil terhadap hidup orang. Ulfa sudah menjadi pergunjingan di seluruh Indonesia – mungkin pula dunia – dan akan selalu ramai dibicarakan.

    Kasihan Ulfa..

     
    • ditta 12:12 pm on November 11, 2008 Permalink

      ulfa juga bilang dia mencintai syeikh dan senang, happy bersamanya ma. cinta memang ada buat semua orang, tapi apakah dengan usia sedini itu, dengan pernikahan dini yang menimpanya, arti kata itu benar2 sudah ia pahami tanpa adanya bisik-bisik busuk orang disekitarnya? orang tua macam apa ya yang membiarkan anaknya kehilangan masa-masa penting untuk belajar, bersosialisasi, bersenang2 dengan teman sebaya, mewujudkan cita2? ga nyangka ada yang mau memberikan restu agar anaknya dijadikan korban kefedofilan seseorang yang dipertanyakan kenormalan pikirannya.

      katanya istrinya yang lain hampir anak dibawah umur semua lho ma. hwehehhee. lelaki kelainan.

    • ciwir 12:28 pm on November 11, 2008 Permalink

      betul mbak alma, selain karena kehendak abu bakar., yan paling penting bagi saya adalah bahwa Nabi Muhammad itu NABI, lah masak manusia mau nyamain nabi???
      kalo mau itba’ nabi mbok yang wajib2 dulu.. sholat, puasa,zakat, haji kayak Nabi Muhammad.
      Wong itba’ nabi kok diambil yang enak2 adja… wah-wah.. gimana sih mas Syech ini ya???

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel