Malam ini menginap di kosan teman. Karena mati lampu, entah kenapa banyak cerita-cerita aneh yang keluar. Hahaha

Semakin larut dan lampu telah kembali menyala, seorang temanku berkata bahwa ia ingin segera menikah. Salah satu alasannya adalah karena ia bosan pacaran dan untuk pertama kalinya pula ia menginginkan sebuah pernikahan. Ada beberapa pertanyaan yang mengganjal hati. Kenapa banyak orang yang berpikir untuk menunda pernikahan hanya karena alasan-alasan keduniawian. Umumnya memang seperti itu dan (mungkin) yang paling khawatir adalah ayah sang gadis.

Menurut temanku ini, tidak ada bedanya antara anak yang masih single dan married. Toh, semuanya hanya terletak pada perbedaan status dan tanggung jawab yang lebih banyak. Orangtua harus tetap membiayai biaya perkuliahan mereka hingga selesai dan bila mereka telah mapan, biaya tersebut bisa dikembalikan.

Tapi apakah cara itu diperbolehkan? Bukankah bila seorang perempuan menikah, maka tanggung jawab sang ayah berpindah pada sang suami, sehingga yang seharusnya membiayai adalah pihak suami. Dikeluargaku sendiri bisa saja kami anak-anaknya diizinkan untuk menikah saat masa kuliah, namun tanggung jawab orangtua pun sebatas setelah ijab kabul selesai diucapkan.

Bila alasan agama pun dijadikan sebagai dalih, apakah itu merupakan suatu pemikiran yang bijak?

Agak sulit memang untuk berkomentar mana yang benar dan mana yang salah. Semua ini tergantung persepsi masing-masing.

Aku kurang mahir dan perlu belajar lagi dalam menentukan judul tulisan. Maaf kalau judul dan isi agak kurang nyambung. Huff…