7 Juli 2008
Entah kenapa hari ini aku sangat kesal. Aku menghidari telepon dan percakapan dengan beberapa orang (maafkan aku).
Aku ga ngerti kenapa aku merasa dimanfaatkan oleh orang lain. Sepertinya orang itu menyuruhku seenak jidatnya, aku ga suka caranya, tapi aku ga bisa protes karena takut membuat keruh air yang masih jernih.
Aku juga ga tau kenapa aku merasa orang lain meremehkanku (dari cara memandang dan berbicara), jadi kuputuskan untuk diam dan mengambil sikap tidak tertarik sama sekali pada urusannya. Apa aku menyesal? Tidak. Toh aku ga berbuat hal yang merugikan, malah bagus kan aku jadi ga ada karena aku rasa kehadiran aku memang tidak diharapkan dan hanya kebetulan belaka.
Setidaknya dari kejadian aneh hari ini (kesel teu puguh) aku sedikit berpikir dan tahu apa yang harus kulakukan dalam kondisi tertentu:
1. Kalau minta tolong sama orang lain (bahkan temen deket) bahasa harus sopan dan jangan seenaknya main perintah (bahkan lewat sms sekalipun)
2. Jangan pernah cuekin orang, walaupun ketemunya ga sengaja dan ga diharapkan. Dicuekin itu ga enak banget, apalagi kalau lagi sensi, suka ada perasaan diremehkan atau bahkan ga dihargai sama sekali.
3. Latih lagi buat senyum ga dipaksain. Biasanya aku mikir hal-hal yang baik sebelum senyum (kalau terpaksa), soalnya senyum palsu itu keliatan. Kalau bertemu dengan orang yang tidak diharapkan, berpikir saja tentang hal baik pada dirinya, pasti deh hati jadi lebih menghargai orang itu dan ikhlas buat senyum tulus.
Huff,,, sialnya lagi aku ga pernah bisa kesel lama-lama sama orang lain (kesel lama tu hal yang biasa dilakukan orang dewasa loh..). Jadi aku harus berpikir dan menuliskan kekesalanku sebagai pelampiasan (biar ga usah cerita ke orang lain).
Hmm,, kenapa aku ga berpikir aja dari sudut pandang mereka? Mungkin temanku itu merasa dekat dan ga sungkan lagi, aku harus memaklumi walaupun ibuku mangajari kalau orang lain baik aku jangan jadi seenaknya.
Soal temanku yang satu lagi, mungkin mereka lelah setelah seharian jalan-jalan. Apalagi kedatanganku sangat tiba-tiba (dan mereka lagi ngobrol!), wajar senyumnya kurang lebar. Aku juga harus nyadar diri kenapa mereka ga antusias berbicara padaku. Selain kemungkinan aku membosankan bagi mereka, lawan bicara mereka itu cowok. Please deh, lawan jenis tuh pasti lebih diminati daripada sejenis. Haha,, kok aku merasa aku menyedihkan ya?
Anyway, soal senyum, aku hanya bisa berusaha untuk tetap senyum ikhlas dengan siapapun. Kalau sedih juga kadang maksain. Aku cuma tahu kalau orang yang mukanya kusut itu ga enak dilihat. Orang lain juga ga akan bisa total bantu kalau aku lagi sedih atau punya masalah, jadi untuk apa aku perlihatkan ke orang lain. Iya kan?
Sekarang, rasa kesal aku sudah hilang. Alhamdulillah…