Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • almahira 10:40 am on June 14, 2008 Permalink | Reply  

    Jagungletup 

    Sedikit cerita tentang Jangungletup

    Semua bermula dari ide 3 orang anak kecil yang bercita-cita merubah dunia…

    Pada suatu hari, sepulang dari pelajaran olahraga di dadaha, kami berpikir tentang sampah-sampah yang menjadi sumber keresahan kota-kota besar. Tiba-tiba terbesit ide untuk mengangkat diri kami sendiri sebagai ”Duta Buang Sampah Pada Tempatnya”, yang hanya kami bertiga yang tahu.

    Anggotanya terdiri dari tiga anak kecil : nanaw, dee-m, dan mamaw.

    Lalu dee-m bercerita pada teman ”absurd”nya tentang rencana kami. Menurutnya, kalau kita ingin mengkampanyekan budaya buang sampah pada orang-orang sekitar kita, kenapa kita ga melakukan mereka untuk buang sampah pada tempatnya? Dan… Jadilah ide itu terlaksana.

    Kita membuat tulisan dari kertas kecil (kertasnya bekas juga)

    - Tulisan-tulisan di atas ditulis tangan (jadi orang-orang cukup appreciate sama kita) –

    Lalu kami membagikannya ke teman-teman, guru-guru, tukang bubur, dan orang-orang di gedung kesenian tasik. beragam reaksi yang kami terima. Ada yang apatis, ada yang mendukung, dan ada pula yang memuji. Intinya rata-rata reaksi dari mereka positif.

    Coba bayangin, kalau misalnya tiap 1 orang ngajak 3 orang lagi buat buang sampah pada tempatnya, kemudian se-Tasikmalaya melakukan hal yang sama lalu se-Indonesia…. (masih ingat deret geometri??)

    Dan di bulan Oktober, 4 hari menjelang idul fitri…

    Kita membagikan kertas itu di alun-alun Tasikmalaya (bari ngabuburit) sebagai dokumentasi dari kampanye kami sebelumnya untuk dibikin film (dee-m bilang ini buat di tonton dian sastro di bali. Hue hehehehehe). Tapi waktu itu mamaw ga ikut gara-gara belum libur, hiks.. sedih

    Itu awal cerita dari Jagungletup.

    Kumpulan anak-anak kecil yang sotoy (sok tau) dan punya cita-cita untuk menyelamatkan dunia.

    Kami terharu saat film kami diikutsertakan untuk lomba di korea..

    Kami terharu saat film kami akan dikirim ke lembaga di Australia dan New Zealand (maaf, kami mencoreng nama Indonesia karena menampilkan tayangan bahwa masyarakatnya suka buang sampah seenaknya)

    Kami terharu bahwa film kami bisa menginspirasi banyak orang…

    Anak kecil menginspirasi dunia!!!!

    Semangaaaat!

    P(^o^)q

     
    • Prita 2:35 am on June 17, 2008 Permalink

      hehehe… anak kecil yang menyadari dirinya anak kecil…

      biasanya anak kecil nggak nyadar kalau dirinya kekanak-kanakan…

      good job!

    • Dimas 5:38 am on June 24, 2008 Permalink

      pengaruhnya tidak signifikan sama sekali terhadap kelangsungan penambahan sampah indonesia. simulasi itu bukan untuk menggugah orang buang sampah pada tempatnya tapi lebih kepada untuk mengetahui sejauh mana orang yang diberi tulisan mengerti maksud tulisan yang dicetak. itu yang saya tangkap sewaktu menonton filmnya. Dan saya rasa bukan termasuk film pendek tapi lebih pada film dokumenter. Kenapa sih waktu ada pemutaran tidak ada persentase dari para pembuat jadi penonton menginterpretasi sesuka mereka, bahkan mungkin tidak mengerti sama sekali. Bukan karena bodoh tapi karena kualitas tayangan yang ditampilkan mengecewakan.

  • almahira 10:30 am on June 14, 2008 Permalink | Reply  

    Ayo, Berkirim Surat! 

    Minggu lalu aku dan sahabatku nanaw berjanji untuk saling berkirim surat bila kami telah memasuki tahun ajaran baru.

    Nanaw bilang dia senang kalau dapat SMS..

    Nanaw bilang telepon-teleponan juga menyenangkan..

    Tapi melalui surat dia mendapat kesan yang lebih dalam (asa kumahaaaa kitu).

    Ada kesan berbeda yang ia dapatkan, lebih dari pesan yang ia terima lewat telepon, SMS, bahkan e-mail.

    Dan kami harus berusaha membuat hal itu menjadi nyata. Hm,, dee-m juga harus tahu rencana kami dan harus berkontribusi juga.

    Layaknya kartini dan sahabatnya yang berkirim surat da berbagi kisah tentang apa yang masing-masing mereka pikirkan, kami akan merajut kisah kami sendiri. Merangkai kata demi kata diantara perbedaan disiplin ilmu dan kesamaan cita kami untuk menyelamatkan bumi.

    Ayo, budayakan menulis surat!

    Mulai dari hal yang kecil untuk merubah dunia..

    Mungkin suatu hari nanti kita akan tinggal di belahan bumi yang berbeda dengan meninggalkan kenangan manis yang tak kan lekang dimakan waktu…

    #hm, aku juga berencana untuk mengirim surat untuk ibu & adikku nanti di tasikmalaya dan purwokerto serta e-mail untuk ayahku di kalimantan#

     
  • almahira 10:01 am on June 14, 2008 Permalink | Reply  

    Gajah dan Manusia 

    Manusia menangkap gajah untuk kepentingannya sendiri. Sebenarnya bukan hanya gajah, ada hewan lain yang seharusnya dikonservasi menjadi korban manusia.

    Televisi menayangkan bagaimana manusia menangkap gajah liar untuk dipekerjakan di daerah perkebunan. Dari tahapan awal sampai gajah itu jinak dan akhirnya lupa bagaimana caranya hidup di alam bebas.

    Sekitar 1 – 2 tahun yang lalu, majalah National Geographic Indonesia memuat artikel tentang gajah afrika dan bagaimana mereka diperlakukan.

    Tentang bagaimana anak gajah dikurung dan ditusuk kakinya dengan bambu agar menjadi jinak dan menuruti kata-kata sang pawang..

    Tentang pembunuhan gajah karena ia kehilangan wilayahnya akibat pembalakan liar..

    Tentang gajah-gajah yang mati oleh pemburu gading..

    Dan tentang gajah yang menjadi korban konflik manusia dalam peperangan..

    Sang gajah entah mengerti atau tidak, hanya menanti sedikit belas kasih manusia.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel