Jagungletup
Sedikit cerita tentang Jangungletup
Semua bermula dari ide 3 orang anak kecil yang bercita-cita merubah dunia…
Pada suatu hari, sepulang dari pelajaran olahraga di dadaha, kami berpikir tentang sampah-sampah yang menjadi sumber keresahan kota-kota besar. Tiba-tiba terbesit ide untuk mengangkat diri kami sendiri sebagai ”Duta Buang Sampah Pada Tempatnya”, yang hanya kami bertiga yang tahu.
Anggotanya terdiri dari tiga anak kecil : nanaw, dee-m, dan mamaw.
Lalu dee-m bercerita pada teman ”absurd”nya tentang rencana kami. Menurutnya, kalau kita ingin mengkampanyekan budaya buang sampah pada orang-orang sekitar kita, kenapa kita ga melakukan mereka untuk buang sampah pada tempatnya? Dan… Jadilah ide itu terlaksana.
Kita membuat tulisan dari kertas kecil (kertasnya bekas juga)
- Tulisan-tulisan di atas ditulis tangan (jadi orang-orang cukup appreciate sama kita) –
Lalu kami membagikannya ke teman-teman, guru-guru, tukang bubur, dan orang-orang di gedung kesenian tasik. beragam reaksi yang kami terima. Ada yang apatis, ada yang mendukung, dan ada pula yang memuji. Intinya rata-rata reaksi dari mereka positif.
Coba bayangin, kalau misalnya tiap 1 orang ngajak 3 orang lagi buat buang sampah pada tempatnya, kemudian se-Tasikmalaya melakukan hal yang sama lalu se-Indonesia…. (masih ingat deret geometri??)
Dan di bulan Oktober, 4 hari menjelang idul fitri…
Kita membagikan kertas itu di alun-alun Tasikmalaya (bari ngabuburit) sebagai dokumentasi dari kampanye kami sebelumnya untuk dibikin film (dee-m bilang ini buat di tonton dian sastro di bali. Hue hehehehehe). Tapi waktu itu mamaw ga ikut gara-gara belum libur, hiks.. sedih
Itu awal cerita dari Jagungletup.
Kumpulan anak-anak kecil yang sotoy (sok tau) dan punya cita-cita untuk menyelamatkan dunia.
Kami terharu saat film kami diikutsertakan untuk lomba di korea..
Kami terharu saat film kami akan dikirim ke lembaga di Australia dan New Zealand (maaf, kami mencoreng nama Indonesia karena menampilkan tayangan bahwa masyarakatnya suka buang sampah seenaknya)
Kami terharu bahwa film kami bisa menginspirasi banyak orang…
Anak kecil menginspirasi dunia!!!!
Semangaaaat!
P(^o^)q



Prita 2:35 am on June 17, 2008 Permalink
hehehe… anak kecil yang menyadari dirinya anak kecil…
biasanya anak kecil nggak nyadar kalau dirinya kekanak-kanakan…
good job!
Dimas 5:38 am on June 24, 2008 Permalink
pengaruhnya tidak signifikan sama sekali terhadap kelangsungan penambahan sampah indonesia. simulasi itu bukan untuk menggugah orang buang sampah pada tempatnya tapi lebih kepada untuk mengetahui sejauh mana orang yang diberi tulisan mengerti maksud tulisan yang dicetak. itu yang saya tangkap sewaktu menonton filmnya. Dan saya rasa bukan termasuk film pendek tapi lebih pada film dokumenter. Kenapa sih waktu ada pemutaran tidak ada persentase dari para pembuat jadi penonton menginterpretasi sesuka mereka, bahkan mungkin tidak mengerti sama sekali. Bukan karena bodoh tapi karena kualitas tayangan yang ditampilkan mengecewakan.