Ibu, akhirnya aku menyadari bahwa aku tak berhak untuk merasa sedih hanya karena kecewa pada hal-hal disekitarku.
Aku harus fokus pada apa yang menjadi tujuanku, mencerdaskan dan menyehatkan generasi Indonesia selanjutnya.
Ya Allah, tolong beri aku kesempatan untuk mewujudkannya bahkan bila itu hanya mencakup satu daerah kecil.
Aku masih ingat perkataan dr. Ridwan tentang anak-anak di pulau nias. ”Empat puluh ribu dari seratus ribu anak disana menderita cacingan, akan jadi apa nias nantinya?”. Sungguh, aku ingin bekerja disana, mempelajari kebudayaan mereka, dan perlahan memperbaiki tingkat kesehatan masyarakatnya. Kalau pun tak dapat ku jangkau, masih banyak tempat lain yang bisa kukunjungi, seperti tempat kelahiranku. Hatiku miris mendengar kabar busung lapar di Tasikmalaya. Aku ingin memberikan persepsi yang benar tentang gizi pada masyarakat agar kejadian seperti itu tak berulang kembali.
Ibu, aku menulis pesan pada sahabatku tentang impianku ini. Namun tak pernah ku kirim hingga hari ini:
Kalau aku baru jadi dokter, kalau kamu jadi aku, mending milih ke pedalaman atau ke daerah yang banyak kasus gizi buruk? Pengennya cuma 6 – 12 bulan si. Emang sih itu masih lama, tapi kalau punya target dari sekarang tujuan kan jadi jelas. Aku ga tega lihat balitayang marasmus dan kwashiorkor di tv. Ku pikir, aku bisa melakukan sesuatu.
Untuk Ayah, Ibu, dan adik-adikku.. dukung aku terus! Jangan pernah kalian biarkan aku larut dalam ketidakpastian.
Prita 10:57 am on June 20, 2008 Permalink
Semangat ma…! Yg begitu bukan cuma kamu aja kok…