15 Maret 2008
Hari ini di ruang lecture, diputar slide tentang ibu. Aku pernah melihat slide itu sebelumnya di ruang OSIS semasa SMA. Yang paling berkesan bagiku adalah kata-kata bahwa ibu selalu mendoakan kita, sang anak. Beliau bahkan rela mengorbankan nyawanya demi kita anak-anaknya.
Membacanya membuatku malu, seolah pepatah ”kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan” menjadi belati yang siap menancap di dadaku.
Jujur, aku memang berdoa setiap hari untuk orangtuaku. Tapi terkadang itu tak keluar dari lubuk hati, itu hanyalah satu kebiasaan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Apakah itu termasuk durhaka?
Aku juga hingga kini belum bisa mewujudkan impian orangtuaku: menjadi anak yang shaleh dan taat pada aturan agama. Sedikit saja aku berharap kesalehan Siti Khadijah melekat pada diriku.
Aku ingin melihat ayah dan ibuku bisa melakukan hal yang mereka inginkan.
Aku ingin melihat dan menemani adik-adikku saat mereka tumbuh dewasa.
Aku ingin ada di rumah, melihat dan menghabiskan waktu bersama mereka semua setelah aku tersibukkan oleh kegiatan-kegiatanku. Apa aku egois?
Ketika SMA, mungkin aku pura-pura tak mengerti arti sebuah keluarga. Tapi setelah kuliah, aku ingin ada di dekat mereka. Aku ingin menghabiskan waktu bersama adik-adikku sebelum mereka dewasa. Aku sering membuat hitungan sendiri. Saat menjadi dokter usiaku 24 tahun, aku ingin mencari pengalaman kerja yang jauh dari orangtua sampai usiaku 25 tahun. Kemudian aku menjadi dokter umum di kota kelahiranku. Membuka praktek di rumah, dan aku bisa melihat ibuku setiap hari. Kalau aku melalaikan shalatku, ibuku pasti memarahiku, tapi aku senang sekali. Aku bisa sering ngobrol dengan adik perempuanku. Adikku yang lain baru masuk kuliah, dan aku ingin mendukung dia sepenuhnya. Mungkin saat itu aku juga mulai membangun usaha dengan adikku yang paling tua. Setelah semua itu tercapai, barulah aku memikirkan sekolah S2, spesialisasi, dan pernikahan.
Tapi sebelum itu, aku ingin melihat ayahku melakukan pekerjaan yang ia sukai. Mungkin membuka toko elektronik? Atau ibuku yang memiliki minat di bidang pendidikan.
Aku tak mau pengorbanan orangtuaku padaku sia-sia. Memikirkan itu saja kadang membuatku takut. Tapi justru itulah yang mendorongku untuk bangkit dar kemalasan.
Tapi jangan katakan bahwa aku terlalu banyak bermimpi. Kata ayahku, kita harus punya mimpi, tapi jangan panjang angan-angan. Aku tahu, jika aku punya keyakinan yang sangat kuat, pasti keinginanku tercapai. Insya Allah..